Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Pancasila MTs Jawa Barat menyelenggarakan Webinar Series #12 dengan tema “Penguatan Peran Guru Pancasila dalam Membangun Ketahanan Nasional di Era Digital” pada Senin (26/10/2026).
Webinar yang berlangsung pukul 10.00–12.00 WIB ini bertujuan memperkuat peran guru Pendidikan Pancasila dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan serta membentuk karakter peserta didik yang kritis, berintegritas, dan bertanggung jawab di tengah perkembangan teknologi digital. Webinar ini diselenggarakan sebagai bagian dari upaya meningkatkan wawasan dan kompetensi guru dalam menghadapi tantangan pendidikan di era digital.
Kegiatan diawali dengan sambutan Ketua MGMP Pendidikan Pancasila MTs Jawa Barat, Deni Kurniawan As’ari, M.Pd., yang menyampaikan pentingnya penguatan kompetensi guru Pendidikan Pancasila dalam menjalankan perannya sebagai pendidik karakter dan penguat nilai-nilai kebangsaan. “Melalui webinar ini, diharapkan para guru dapat memperluas wawasan, bertukar gagasan, serta mengembangkan strategi pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman,” ujarnya. Webinar tersebut menghadirkan dua narasumber Dudih Sutrisman, S.Pd., M.Sos., Analis Kebijakan Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI), dan H. Fahmi, M.Pd. (Alumni Lemhannas RI). Adapun Rani Yulia Purwanti, S.Pd. (Guru MTsN 2 Garut) bertindak sebagai moderator.
Dalam pemaparannya, Dudih menegaskan bahwa ketahanan nasional tidak hanya berkaitan dengan pertahanan fisik, tetapi juga ditentukan oleh karakter warga negara, kualitas sumber daya manusia, ketahanan sosial budaya, serta persatuan dan kepercayaan sosial. Nilai-nilai kebangsaan yang bersumber dari Pancasila perlu diwujudkan dalam perilaku nyata, bukan sekadar dihafalkan. “Guru Pendidikan Pancasila memiliki peran strategis sebagai pendidik karakter kebangsaan, penguat nalar kritis, pembimbing dalam memverifikasi informasi, serta penjaga ruang dialog yang sehat dan inklusif di lingkungan sekolah maupun ruang digital,” katanya.
Sementara itu, H. Fahmi, M.Pd., menekankan bahwa guru Pendidikan Pancasila tidak hanya bertugas menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga menjadi teladan dan pengarah dalam membangun ekosistem nilai. Peserta didik perlu dibiasakan untuk memeriksa sumber informasi, menilai bukti dan konteks, membandingkan informasi dengan sumber tepercaya, serta menentukan respons yang tepat sebelum membagikannya. “Pembelajaran juga dapat dikembangkan melalui analisis kasus digital, seperti hoaks, perundungan, ujaran kebencian, dan konflik identitas. Dengan pendekatan tersebut, peserta didik diharapkan mampu memahami persoalan, mempertimbangkan nilai-nilai Pancasila, serta mengambil keputusan secara etis dan bertanggung jawab,” ujar Guru MTsN 6 Cirebon dan alumni ToT Lemhannas RI tersebut.
Melalui Webinar Series #12 ini, MGMP Pendidikan Pancasila MTs Jawa Barat berharap para guru semakin mampu mengintegrasikan literasi digital dan pendidikan karakter dalam proses pembelajaran. Penguatan tersebut perlu didukung melalui kolaborasi antara madrasah, MGMP, keluarga, masyarakat, dan pemangku kepentingan terkait, termasuk dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, serta menghargai keberagaman. Dengan demikian, pendidikan Pancasila diharapkan dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan yang kuat, mampu menyikapi perbedaan secara bijaksana, serta berkontribusi dalam menjaga persatuan dan ketahanan nasional di era digital. (Ted)
Dalam pemaparannya, Dudih menegaskan bahwa ketahanan nasional tidak hanya berkaitan dengan pertahanan fisik, tetapi juga ditentukan oleh karakter warga negara, kualitas sumber daya manusia, ketahanan sosial budaya, serta persatuan dan kepercayaan sosial. Nilai-nilai kebangsaan yang bersumber dari Pancasila perlu diwujudkan dalam perilaku nyata, bukan sekadar dihafalkan. “Guru Pendidikan Pancasila memiliki peran strategis sebagai pendidik karakter kebangsaan, penguat nalar kritis, pembimbing dalam memverifikasi informasi, serta penjaga ruang dialog yang sehat dan inklusif di lingkungan sekolah maupun ruang digital,” katanya.
Sementara itu, H. Fahmi, M.Pd., menekankan bahwa guru Pendidikan Pancasila tidak hanya bertugas menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga menjadi teladan dan pengarah dalam membangun ekosistem nilai. Peserta didik perlu dibiasakan untuk memeriksa sumber informasi, menilai bukti dan konteks, membandingkan informasi dengan sumber tepercaya, serta menentukan respons yang tepat sebelum membagikannya. “Pembelajaran juga dapat dikembangkan melalui analisis kasus digital, seperti hoaks, perundungan, ujaran kebencian, dan konflik identitas. Dengan pendekatan tersebut, peserta didik diharapkan mampu memahami persoalan, mempertimbangkan nilai-nilai Pancasila, serta mengambil keputusan secara etis dan bertanggung jawab,” ujar Guru MTsN 6 Cirebon dan alumni ToT Lemhannas RI tersebut.
Melalui Webinar Series #12 ini, MGMP Pendidikan Pancasila MTs Jawa Barat berharap para guru semakin mampu mengintegrasikan literasi digital dan pendidikan karakter dalam proses pembelajaran. Penguatan tersebut perlu didukung melalui kolaborasi antara madrasah, MGMP, keluarga, masyarakat, dan pemangku kepentingan terkait, termasuk dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, serta menghargai keberagaman. Dengan demikian, pendidikan Pancasila diharapkan dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan yang kuat, mampu menyikapi perbedaan secara bijaksana, serta berkontribusi dalam menjaga persatuan dan ketahanan nasional di era digital. (Ted)
Sumber: https://binanews.id/penguatan-peran-ketahanan-nasional-guru-ppkn-di-era-digital/
