Jejak Pengabdian yang Tak Pernah Padam, Edwan Septiawan Permana: Dari Ruang Kelas Menuju Pengabdian untuk Negeri

Oleh: Deni Kurniawan As'ari, M.Pd. | Ketua MGMP PP MTs Jawa Barat

Sumber: Jejak Cahaya Alumni Kisah Inspiratif Pengabdian dan Keteladanan dalam Membangun Pendidikan Indonesia



Di balik sosok yang ramah dan sederhana, Edwan Septiawan Permana, S.Pd., M.Pd., menyimpan perjalanan hidup yang penuh ketekunan. Ia bukan pribadi yang mengejar sorotan, tetapi memilih membiarkan karya dan pengabdiannya berbicara. Perjalanan hidupnya memperlihatkan bahwa keberhasilan bukan hanya soal mencapai jabatan atau penghargaan, melainkan tentang kesetiaan pada pilihan hidup dan keberanian untuk terus memberikan manfaat bagi sesama. Sebagai guru Pendidikan Pancasila, pendidik generasi muda, dan aktivis organisasi profesi, ia meyakini bahwa pendidikan adalah jalan paling mulia untuk membangun masa depan bangsa.


Lahir di Bandung, 30 September 1983, Edwan merupakan putra sulung dari tiga bersaudara. Ia dibesarkan dalam keluarga yang menanamkan nilai-nilai pendidikan dan kesederhanaan. Ayahnya, H. Muharam, S.Pd., dan ibunya, Hj. Ely Rolliah, menjadi teladan pertama dalam kehidupan yang mengajarkannya arti kerja keras, tanggung jawab, dan kejujuran. Nilai-nilai keluarga itulah yang kemudian menjadi fondasi kuat dalam setiap langkah kehidupannya.


Masa kecil Edwan dilalui di Kota Bandung. Ia menempuh pendidikan di TK Kenari Bandung, SD Negeri Pajajaran Bandung, SLTP Negeri 1 Bandung, dan SMU Negeri 4 Bandung. Sejak SMA, benih kecintaannya terhadap Pendidikan Kewarganegaraan mulai tumbuh. Sosok yang paling berpengaruh saat itu adalah guru PKn di SMU Negeri 4 Bandung, Bapak Perliono. Cara mengajar yang sederhana, santun, komunikatif, serta mampu menjelaskan materi yang rumit menjadi mudah dipahami meninggalkan kesan yang sangat mendalam.


Di saat teman-temannya mulai memilih berbagai jurusan populer, Edwan justru mantap menentukan arah hidupnya. "Saya memilih PKn UPI karena terinspirasi oleh guru saya, Pak Perliono. Beliau mengajarkan bahwa guru bukan hanya menyampaikan pelajaran, tetapi juga membentuk karakter. Dari beliau saya belajar bahwa ilmu pemerintahan dan kewarganegaraan adalah ilmu yang sangat penting untuk membangun bangsa," ujar Edwan.


Keputusan itu membawanya menjadi mahasiswa Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Pendidikan Indonesia pada tahun 2001. Memasuki dunia perkuliahan, ia mengaku sempat merasa gugup. Lingkungan baru, dosen-dosen yang berwibawa, serta teman-teman yang berasal dari berbagai daerah membuatnya harus beradaptasi. Namun rasa canggung itu perlahan berubah menjadi kebanggaan ketika merasakan suasana akademik yang hangat dan penuh kekeluargaan.


Salah satu peristiwa yang mengubah perjalanan hidupnya terjadi ketika ia dipercaya menjadi Ketua Angkatan 2001, menggantikan almarhum Kang Deias. Pada awalnya ia dikenal sebagai mahasiswa yang pendiam dan tidak terlalu menonjol. Namun kepercayaan yang diberikan teman-temannya menjadi titik balik yang mengubah kepercayaan dirinya.


Ia belajar memimpin, berkomunikasi, menyelesaikan konflik, dan membangun kebersamaan. Dari sanalah lahir banyak relasi yang kelak menjadi modal penting dalam perjalanan kariernya. "Saya sebenarnya bukan orang yang paling aktif saat itu. Justru ketika dipercaya menjadi ketua angkatan, saya belajar keluar dari zona nyaman. Amanah itu mengubah hidup saya. Saya belajar memimpin, menghargai orang lain, dan membangun persahabatan yang bertahan sampai sekarang," kenangnya.


Selama kuliah, Edwan juga aktif di HMCH dan MAPACH. HMCH memberinya pengalaman tentang manajemen organisasi, etika kepemimpinan, dan tata kelola organisasi yang baik. Sementara MAPACH membentuk keberanian mengambil keputusan, solidaritas, dan kemampuan menyelesaikan persoalan dalam situasi yang penuh tekanan.


Baginya, organisasi bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi laboratorium kehidupan yang mengajarkan banyak hal yang tidak ditemukan di ruang kuliah.


Lingkungan akademik PKn UPI juga dipenuhi dosen-dosen yang sangat menginspirasinya. Ia mengenang Prof. Dr. Kokom Komalasari sebagai pembimbing yang sabar dan penuh perhatian. Dr. Dasim Budimansyah dikenalnya sebagai akademisi yang visioner dengan humor yang mencairkan suasana kelas. Prof. Dr. Aim Abdulkarim memberikan teladan tentang kewibawaan, sedangkan Prof. Dr. Karim Abdulkarim memperlihatkan bagaimana komunikasi yang indah mampu menyampaikan gagasan besar dengan elegan. Tak kalah penting, Dr. Halimi menjadi sosok religius yang mengajarkan kesabaran dan ketulusan.


Kenangan lain yang tidak pernah dilupakannya adalah kegiatan kuliah lapangan ke Surakarta dan Yogyakarta. Perjalanan tersebut memperkaya wawasan kebangsaan sekaligus mempererat persahabatan antarmahasiswa. Baginya, pengalaman di luar kelas sering kali justru memberikan pelajaran hidup yang paling berharga.


Setelah menyelesaikan pendidikan di UPI, perjalanan karier Edwan dimulai dari titik yang sederhana. Ia mengajar di SMP swasta di Kota Bandung sebagai guru honorer. Tidak lama kemudian ia memperoleh kesempatan mengajar di SMP Negeri 2 Bandung, salah satu sekolah favorit yang telah melahirkan banyak tokoh nasional.


Di sekolah itulah ia merasakan kebahagiaan tersendiri ketika melihat murid-muridnya tumbuh menjadi pribadi yang sukses. Beberapa di antaranya bahkan dikenal masyarakat luas, seperti Reza Anugerah dari grup musik Smash, Rifa Stardut, serta atlet bola voli nasional Pungky Affrecia.


Selain mengajar di sekolah formal, ia juga aktif mengajar di lembaga bimbingan belajar Ganesha Operation (GO). Pengalaman tersebut semakin mengasah kemampuan mengajarnya sekaligus memperluas pengalamannya dalam menghadapi karakter peserta didik yang beragam.


Namun titik balik terbesar dalam perjalanan kariernya terjadi ketika pemerintah membuka seleksi CPNS Guru PKn Kementerian Agama. Saat itu hanya tersedia satu formasi untuk seluruh Jawa Barat, tepatnya di Kabupaten Cirebon. Persaingan sangat ketat, tetapi Edwan memilih untuk mencoba.


Berbekal doa, kerja keras, dan keyakinan kepada Allah SWT, ia berhasil menjadi satu-satunya peserta yang lolos pada formasi tersebut. Penempatan pertamanya adalah di MTsN Palimanan Kabupaten Cirebon, sebelum akhirnya mutasi ke MTs Negeri 1 Kuningan setelah menikah dengan perempuan asal Kuningan, Fepi Musniawati, S.Pd.


Bersama sang istri, ia membangun keluarga yang harmonis dan dikaruniai dua orang putri, Dafina Aulia Ramadhani dan Salma Nur Fadhilah, yang menjadi sumber semangat dalam setiap langkah pengabdiannya.


Dalam dunia pendidikan, Edwan menyadari bahwa tantangan terbesar bukan lagi sekadar menyampaikan materi pelajaran. Tantangan sesungguhnya adalah membentuk akhlak generasi muda di tengah derasnya arus globalisasi dan budaya digital yang membawa begitu banyak pengaruh negatif.


Sebagai guru Pendidikan Pancasila, ia memandang bahwa pendidikan karakter harus menjadi prioritas utama. "Mengajar itu bukan sekadar membuat anak pintar. Yang jauh lebih penting adalah membentuk akhlaknya. Sebab ilmu tanpa karakter hanya akan melahirkan orang-orang cerdas yang kehilangan arah,” tuturnya.


Prinsip tersebut ia buktikan melalui berbagai aktivitas profesional. Selama dua tahun berturut-turut, 2022 dan 2023, ia terpilih sebagai Guru Berprestasi dan Guru Favorit pada peringatan Hari Guru Nasional. Ia juga berhasil lulus asesmen calon pengawas madrasah, sebuah pencapaian yang menunjukkan kapasitasnya sebagai calon pemimpin pendidikan.


Di luar tugas mengajar, Edwan aktif sebagai Ketua MGMP Pendidikan Pancasila MTs Kabupaten Kuningan sekaligus menjadi pengurus MGMP Pendidikan Pancasila MTs Provinsi Jawa Barat. Melalui organisasi profesi tersebut, ia terus berbagi pengalaman, memperkuat kompetensi guru, dan mendorong lahirnya inovasi pembelajaran yang lebih baik.


Edwan selalu memegang satu prinsip yang sederhana namun sangat dalam maknanya. "Berbuatlah yang terbaik, lalu serahkan hasilnya kepada Allah SWT. Tugas kita adalah berikhtiar dengan sungguh-sungguh, sedangkan hasil akhirnya adalah bagian dari kehendak-Nya," ungkap Edwan.


Di ruang-ruang kelas tempat ia mengajar, mungkin tidak semua murid akan mengingat setiap materi yang pernah disampaikannya. Namun mereka akan selalu mengingat keteladanan gurunya—seorang pendidik yang percaya bahwa ilmu harus melahirkan karakter, bahwa kepemimpinan lahir dari amanah, dan bahwa pengabdian kepada pendidikan adalah salah satu bentuk ibadah yang paling mulia.

***

Lebih baru Lebih lama