Perseteruan Bobotoh Dengan The Jakmania: Rivalitas Abadi, Indonesia Dapat apa?

Oleh: Dede Arief Rohaedi | Guru MTsN 10 Majalengka


Saya yakin, sejak beberapa hari menjelang kick-off  Liga Super Indonesia musim 2026–2027, banyak penggemar sepak bola—baik fans netral maupun pendukung fanatik—merasa antusias sekaligus khawatir. Penyebabnya adalah regulasi terbaru dari PT. Liga Indonesia yang kembali mengizinkan suporter tim tandang (away) datang langsung ke stadion. Pertandingan tentu akan terasa lebih seru, hidup, dan adil jika kedua tim didukung langsung oleh para pendukungnya di dalam stadion. Namun, Liga Indonesia punya dinamika tersendiri. Ini bukan sekadar soal kehadiran dua kelompok suporter, melainkan tentang rivalitas abadi—yang dimaksud adalah antara Bobotoh (Persib Bandung) dan The Jakmania (Persija Jakarta). Dalam sejarah bergulirnya kompetisi sepak bola profesional di Indonesia, perseteruan ini kerap memicu kericuhan, aksi anarkis, hingga memakan korban jiwa. Hal itulah yang dulu memaksa operator liga melarang kehadiran suporter tim tamu. Kini, aturan larangan tersebut resmi dicabut dan semua tim tamu boleh dihadiri pendukungnya di stadion .

 

Sesungguhnya permasalahan rivalitas yang panas, dan ekstrim  kelompok antar suporter sepak bola seperti ini terjadi pula di beberapa negara lain. Bahkan sebagian besarnya terjadi di negara-negara yang tradisi sepak bolanya sudah maju dan berprestasi di piala dunia. Misalnya El Clásico di Spanyol antara Real Madrid vs Barcelona (Madridistas vs Culers), Superclásico di Argentina antara Boca Juniors vs River Plate (Xeneizes vs Los Millonarios), Derby della Madonnina di Italia antara AC Milan vs Inter Milan (Rossoneri vs Nerazzurri), dan North London Derby di Inggris antara Arsenal vs Tottenham Hotspur (Gunners vs Spurs).

 

Namun menariknya, meskipun kompetisi sepak bola di negara-negara ini, khususnya di Argentina, Italia dan Spanyol, diwarnai rivalitas sengit antar superter klub, tiga negara ini pernah menjadi juara piala dunia. Bahkan, Argentina, dan Spanyol, sukses merebut  supremasi tertinggi sebagai juara dunia pada dua edisi piala dunia terakhir.

 

Lantas, Indonesia mendapat apa dari rivalitas ekstrem yang “abadi” ini ?

Jika ditinjau dari kacamata kewarganegaraan, fenomena ini memperlihatkan fakta yang mengkhawatirkan bagi terbentuknya integrasi nasional yang solid, sebab rivalitas ekstrem antara Bobotoh (Persib Bandung) dan The Jakmania (Persija Jakarta) bukan sekadar perselisihan antar-pendukung klub sepak bola, melainkan sebuah krisis kewarganegaraan kultural dan sosial di Indonesia. Krisis yang menggambarkan terjadinya hal-hal negatif antara lain:

 

Pertama, pelanggaran prinsip keutamaan kewarganegaraan.

Krisis ini ditandai dengan runtuhnya prinsip keutamaan kewarganegaraan yang seharusnya menjunjung tinggi keharmonisan hidup berbangsa. Perseteruan yang mengarah pada kekerasan fisik, pengeroyokan, hingga memakan korban jiwa mencerminkan hilangnya nilai toleransi dan keadaban masyarakat.  Pendukung dengan “fanatisme buta” sering kali lebih mengedepankan fanatisme kelompok di atas kewajiban moral untuk menghormati hak hidup, hak ketenangan dan keamanan orang lain sebagai sesama warga negara.

 

Kedua, pertentangan antara hak dan kewajiban warga negara.

Setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban yang dijamin oleh konstitusi Indonesia (UUD Tahun 1945). Ada hak yang nyata terabaikan, yakni anggota masyarakat umum dan suporter memiliki hak atas rasa aman (Pasal 28G) dan hak untuk berkumpul/mengekspresikan diri secara damai. Serta merta terjadi pelangararan terhadap kewajiban sebab kekerasan, pengrusakan fasilitas umum, dan sweeping kendaraan adalah melanggar kewajiban hukum untuk mematuhi undang-undang dan menghormati hak asasi orang lain (Pasal 28J).

 

Ketiga, menguatnya identitas teritorial dan konflik antar group.

Dalam konsep kewarganegaraan, identitas nasional seharusnya mengikat di atas identitas kedaerahan atau komunitas. Rivalitas ini memicu primordialisme sempit berbasis teritorial (Bandung/Jawa Barat vs Jakarta). Identitas sebagai "Bobotoh" atau "The Jakmania" diposisikan lebih tinggi daripada identitas bersama sebagai "Warga Negara Indonesia".

Hal ini lebih lanjut menciptakan batas tegas antara in-group (kelompok kita) dan out-group (kelompok lawan atau musuh) yang rentan terdistorsi menjadi kebencian dan antipati yang mengakar dan berkepanjangan.  Kondisi rentan ini bisa semakin mengkhawatirkan saat ada narasi dalam dunia supporter di mana  identitas etnis dikonstruksi sebagai komoditas simbolis: Bobotoh (Persib) merepresentasikan identitas kolektif ke-Sunda-an dan kebanggaan masyarakat Jawa Barat (Pasundan). The Jakmania (Persija) memegang identitas ke-Betawi-an serta kebanggaan warga ibu kota (Batavia/Jakarta).

 

Penggunaan bahasa Sunda dan dialek Betawi sering dipakai untuk menegaskan batas kelompok. Kata-kata umpatan khas daerah masing-masing diserap menjadi chant stadion untuk merendahkan kubu lawan. Ketika persaingan di lapangan memanas, identitas etnis ini ditarik ke dalam stadion, chant, dan slogan untuk menciptakan dikotomi tegas diantara mereka.

 

Jika dibiarkan, dikotomi tegas ini dapat melahirkan dendam antar-generasi yang merusak konsensus nasional tentang toleransi dan persatuan antardaerah. Fanatisme olahraga yang melenceng dapat menjadi ancaman nyata bagi Persatuan Indonesia. Rivalitas tersebut tidak lagi sekadar persaingan untuk mencetak kemenangan pada 90 menit di lapangan, melainkan telah terdistorsi menjadi anomali sosial yang mengikis semangat kebhinnekaan Indonesia.

 

Keempat, di era modern seperti sekarang, perseteruan ini turut bergeser ke media sosial. Berbagai bentuk provokasi digital -seperti perundungan siber (cyberbullying), ujaran kebencian (hate speech), dan penyebaran hoaks- marak berseliweran di berbagai platform. Dinamika di dunia maya ini secara nyata memperkeruh dan memperburuk hubungan kedua kelompok suporter di dunia nyata..

 

Adakah sisi keuntungan yang didapat Indonesia?

Jika dilihat dari sudut pandang kontradiktif, rivalitas kedua kubu ini secara tidak langsung menciptakan beberapa dampak positif. Salah satunya adalah melonjaknya nilai komersial dan rating televisi. Dalam industri media, permusuhan ini justru sangat menjual; laga Persib vs Persija selalu mencetak rekor penonton terbanyak, memicu deretan iklan, serta mencatatkan penjualan tiket terlaris.

 

Fenomena ini turut menyuburkan ekosistem konten, media olahraga, hingga industri merchandise lokal di kedua daerah. Selain dampak ekonomi, rivalitas ini secara sosiologis memperkuat identitas dan solidaritas lokal, yakni memupuk rasa memiliki (sense of belonging) warga Jawa Barat dan Jakarta terhadap kota serta klub kebanggaannya

 

Secara objektif kita dapat mengambil sikap bahwa rivalitas ekstrem ini jauh lebih banyak menimbulkan dampak negatif daripada manfaat positif yang sering didengungkan. Keuntungan yang didapat sebagian pihak mungkin hanya sebatas nilai ekonomi dan finansial. Namun, semua itu tentu tak sebanding dengan kerugian besar yang ditanggung bangsa ini: terganggunya integrasi nasional dan retaknya keutuhan sebuah bangsa yang majemuk.

 

Sambil menantikan terwujudnya laga berkualitas tinggi antara Persib dan Persija yang kini dapat dihadiri secara damai oleh kedua kelompok suporter, mari kita mengupayakan pemutusan rantai perseteruan ini. Sudah saatnya kita mengedepankan persatuan bangsa di atas sentimen entitas maupun primordialisme apa pun. Harapannya, rekonsiliasi suporter di tingkat akar rumput dapat menjadi fondasi kokoh bagi sepak bola nasional. Dengan ekosistem persatuan dan kompetisi yang sehat ini, prestasi Timnas Garuda diharapkan mampu melesat dan bersaing di level dunia seperti Argentina dan Spanyol.

 

Selamat menonton untuk para Bobotoh, The Jakmania, dan fans sepak bola !

 

Salam damai dari kampung Tanah Subur, 11 September 2026.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama