Ibu Pengamen dan Dua Putrinya: Quo Vadis Fungsi Negara? (Catatan Perjalanan dari Purwokerto)

Oleh: Dede Arief Rohaedi Guru Pendidikan Pancasila MTsN 10 Majalengka

 

Ada sebuah pemandangan yang membuatku refleks menginjak rem dan menepikan kendaraan. Di seberang jalan, tampak seorang perempuan berpakaian lusuh—jauh dari kata layak—dengan rambut kusut berdebu serta sandal jepit tipis yang beda warna talinya. Namun, bukan hanya itu yang mengetuk hatiku untuk berhenti. Perempuan itu memboyong dua anak perempuan yang masih balita.


Anak yang paling kecil digendongnya menggunakan kain berwarna pudar yang hampir koyak. Menilik fisiknya, usianya mungkin belum genap dua tahun. Di bibirnya terselip dot plastik tanpa botol—mungin sebuah siasat sang ibu agar buah hatinya tetap tenang.


Sementara itu, anak yang satu lagi—berusia sekitar tiga atau empat tahun—dituntun dengan tangan kanan. Tangan kiri sang ibu menenteng speaker kecil dengan tali rafia melintang di pundak. Bocah kecil itu berbadan kurus, bajunya kotor berdebu, dan rambutnya pirang kusam terbakar terik matahari. Di tangan mungilnya, tergenggam erat bekas wadah makanan ringan.

 

Setelah menghentikan kendaraan, aku memanggil mereka, "Bu, tunggu!"

Langkah mereka terhenti. Ibu itu menoleh lalu bertanya, "Ada apa, Pak?"

"Mau ke mana siang-siang panas begini?" tanyaku.

"Ngamen, Pak. Ke mana saja, asal dapat uang."

"Ibu dari mana asalnya?" lanjutku bertanya.


Ibu itu menyebutkan daerah asalnya. Hatiku seketika teriris—ia berasal dari daerah yang berjarak tak kurang dari 50 kilometer dari tempat kami bertemu. Sungguh sebuah perjuangan yang teramat berat bagi seorang ibu, terlebih dengan membawa dua anak balitanya.


Rasa ingin tahuku belum usai. Aku kembali bertanya, "Ini anak-anak, putri Ibu? Ibu setiap hari ngamen membawa mereka?"


"Keduanya putri saya, Pak. Untuk menyambung hidup kami bertiga, saya ngamen tiap hari. Kalau tidak, kami tidak bisa makan, Pak," jawab ibu itu dengan suara lirih.


"Lalu, suami Ibu—bapaknya anak-anak—kerjanya apa?" tanyaku penasaran.


Ibu itu tidak langsung menjawab. Raut mukanya kian sendu, dan sekilas kulihat genangan air mata di sudut matanya.


Setelah jeda beberapa saat, ia melanjutkan, "Kami sudah berpisah, Pak. Dia meninggalkan kami bertiga dan tidak tahu ke mana kini. Dengan ngamen inilah kami mencari uang untuk sekadar makan, berharap ada orang baik yang sudi berbagi."


Ya Allah, hatiku pedih sekali. Mataku berkaca-kaca menyaksikan kemalangan ibu dan kedua putrinya ini. Tak sanggup lagi aku bertanya lebih jauh, khawatir rentetan kisah duka yang keluar dari mulutnya hanya akan menambah sedih luka mereka.


Akhirnya, aku kepalkan ke tangan putri sulungnya sejumlah uang seraya berkata, “Ini buat makan ya. Hati-hati ibu bawa anak-anaknya. Semoga ibu dan anak-anak sehat , mendapat rizqi yang cukup dan menemukan kehidupan yang lebih baik." Ia menjawab singkat, "Terima kasih, Pa."  Merekapun melanjutkan langkahnya menuju tempat lain. Entah kemana lagi, yang pasti perjuangan hidup mereka sangat tidak mudah.


Para pembaca yang budiman, maksudku menceritakan ini adalah untuk menyadarkan kita bahwa kenyataan pahit yang menimpa ibu dan kedua putrinya ini benar-benar ada di sekitar kita. Sangat mungkin jumlah mereka tidak sedikit—hanya ruang, waktu, dan pelakunya saja yang berbeda. Namun temanya tetap sama: tentang keterbatasan, kemiskinan, dan betapa mereka tersisih dari kehidupan yang sejahtera dan bahagia. Sebuah kehidupan ideal yang sesungguhnya merupakan hak segenap warga negara di negeri ini.

 

Lalu aku berpikir, bukankah sebagai negara-bangsa kita memiliki "Bintang Penuntun" (leitstar), yaitu Pancasila—sebuah mahakarya pendiri bangsa yang sangat idealis? Bintang yang menjadi kompas moral dan etika bagi para pengelola negeri untuk mewujudkan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia; bukan sekadar untuk seseorang, satu keluarga, ataupun golongan tertentu.


Bukankah kita juga memiliki UUD 1945 sebagai konstitusi negeri, yang memberi mandat bahwa fungsi negara—salah satunya—adalah memajukan kesejahteraan umum serta memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar?


Lebih dari itu, negeri ini dianugerahi kekayaan alam melimpah ruah yang mutlak dijadikan modal kesejahteraan rakyat, sebagaimana amanat konstitusi: "Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat."


Lantas, mengapa setelah 81 tahun Republik ini merdeka, masih ada sebagian rakyat yang hidup dalam kemiskinan dan keterbatasan hebat—seperti ibu dan kedua putrinya ini?

 

Esok hari, bangsa Indonesia gempita merayakan kemerdekaan. Pada momentum ini, mari kita yakini bahwa makna merdeka bukan sekadar tentang upacara, dan perayaan nan megah atau bendera Merah Putih yang berkibar tinggi. Merdeka harus pula bermakna hadirnya kesejahteraan dan kemakmuran yang nyata bagi segenap rakyat.


Dengan demikian, ibu pengamen dan kedua putrinya pun dapat merasakan manisnya kemerdekaan. Mereka merasa bahwa negara merdeka benar-benar hadir dan menjalankan fungsinya dengan baik—termasuk dalam mengangkat harkat dan martabat mereka bertiga sebagai manusia yang merdeka.

 

Semoga Indonesia di masa-masa mendatang segera menjadi negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Aamiin.

 

Salam dari Bumi  Satria.

Purwokerto, 16 Agustus 2026.

Lebih baru Lebih lama