Oleh : Teddy Hermansyah, S.Pd | Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum MTsN 7 Majalengka, Sekretaris MGMP PP MTs Kab. Majalengka dan Pengurus MGMP PP MTs Jawa Barat
Semarak memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 Tahun 2026 terasa meriah di Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka. Salah satu rangkaian kegiatan yang menarik perhatian masyarakat adalah Pentas Karnaval Budaya Menuju Kemandirian Desa dalam Mewujudkan Majalengka Langkung Sae yang mengambil titik start dan finish di Lapang Kecamatan Jatitujuh.
Kegiatan karnaval tersebut diikuti oleh seluruh desa yang berada di
wilayah Kecamatan Jatitujuh. Masing-masing desa menampilkan kreativitas,
potensi, budaya, produk unggulan, serta berbagai aktivitas masyarakat yang
menjadi ciri khas desanya. Beragam tampilan tersebut dikemas secara kreatif
dalam sebuah karnaval yang tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi
juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan dan potensi desa kepada
khalayak luas.
Karnaval budaya menjadi momentum penting untuk menunjukkan bahwa desa
memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan menuju kemandirian. Setiap
peserta membawa pesan tentang keberagaman, gotong royong, kreativitas, dan
semangat membangun desa. Potensi di bidang pertanian, ekonomi kreatif,
kerajinan, kesenian, kuliner, pelayanan masyarakat, hingga tradisi lokal
menjadi bagian dari ekspresi masing-masing desa dalam kegiatan tersebut.
Semangat “Majalengka Langkung Sae” semakin terasa ketika masyarakat dari
berbagai desa berbaur dalam suasana penuh kebersamaan. Perbedaan karakter,
potensi, dan budaya antardesa justru menjadi kekuatan yang memperkaya kehidupan
masyarakat Kecamatan Jatitujuh. Karnaval menjadi gambaran bahwa pembangunan
tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga bagaimana
masyarakat mampu menjaga identitas budaya dan mengembangkan potensi lokal.
Karnaval sebagai Pembelajaran Pendidikan Pancasila
Pentas karnaval budaya tersebut juga memiliki nilai edukatif yang sangat
relevan dengan pembelajaran Pendidikan Pancasila, khususnya pada materi “Melestarikan
Budaya Bangsaku.” Melalui kegiatan ini, peserta didik dapat melihat secara
langsung bagaimana budaya dan potensi lokal dirawat, dikembangkan, serta
diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karnaval memberikan pengalaman nyata bahwa Indonesia merupakan bangsa
yang memiliki keberagaman budaya. Keberagaman tersebut bukan alasan untuk
terpecah, melainkan menjadi kekayaan yang harus dijaga bersama. Nilai-nilai
Pancasila dapat ditemukan dalam berbagai aktivitas selama kegiatan berlangsung,
seperti gotong royong, persatuan, kerja sama, kreativitas, tanggung jawab,
menghargai perbedaan, serta rasa bangga terhadap budaya daerah.
Pada sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia, misalnya, tercermin
dari keterlibatan seluruh desa dalam satu kegiatan bersama. Meskipun setiap
desa menampilkan identitas dan keunggulannya masing-masing, seluruhnya tetap
berada dalam satu semangat kebangsaan untuk memperingati kemerdekaan Republik
Indonesia.
Sementara itu, semangat gotong royong yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat menunjukkan bahwa budaya bangsa tidak hanya berupa kesenian atau pakaian tradisional, tetapi juga nilai-nilai luhur yang hidup dalam keseharian masyarakat.
Melalui pembelajaran kontekstual seperti ini, peserta didik dapat
memahami bahwa merawat budaya bangsa bukan sekadar mempelajari teori di dalam
kelas, tetapi juga mengenal, menghargai, melestarikan, dan ikut berpartisipasi
dalam kehidupan budaya di lingkungan sekitar.
Dari Desa untuk Majalengka yang Lebih Baik
Karnaval budaya Kecamatan Jatitujuh juga memperlihatkan bahwa kemajuan
daerah dapat dimulai dari desa. Ketika setiap desa mampu mengenali potensi,
mengembangkan kreativitas masyarakat, serta menjaga budaya lokal, maka akan
terbentuk kekuatan kolektif yang mendukung terwujudnya pembangunan daerah.
Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang apresiasi bagi masyarakat yang
telah berkontribusi dalam menjaga dan mengembangkan potensi desa. Kreativitas
yang ditampilkan dalam karnaval merupakan bentuk kebanggaan terhadap identitas
lokal sekaligus upaya memperkenalkan kekayaan desa kepada generasi muda.
Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81 akhirnya tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk menumbuhkan rasa nasionalisme, memperkuat persatuan, dan membangun kesadaran bahwa kemerdekaan harus diisi dengan karya nyata.
Pentas Karnaval Budaya Menuju Kemandirian Desa menjadi bukti bahwa
budaya, kreativitas, gotong royong, dan potensi masyarakat dapat berjalan
beriringan menuju cita-cita bersama: membangun desa yang mandiri dan mewujudkan
Majalengka Langkung Sae.
Bagi generasi muda, kegiatan tersebut menjadi pembelajaran berharga bahwa
menjaga budaya berarti menjaga jati diri bangsa. Dengan mengenal budaya lokal,
menghargai keberagaman, dan ikut melestarikannya, generasi penerus turut
mengambil bagian dalam merawat Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

