Memuliakan Sungai: Ketika Budaya dan Kearifan Lokal Menjadi Jalan Pelestarian Lingkungan

Oleh : Teddy Hermansyah, S.Pd. |  Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum MTsN 7 Majalengka, Sekretaris MGMP PP MTs Kab. Majalengka dan Pengurus MGMP PP MTs Jawa Barat)

 



Sungai bukan sekadar aliran air yang menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya. Di dalam alirannya terdapat kehidupan, sejarah, kebudayaan, mata pencaharian, serta ingatan kolektif masyarakat yang tinggal di sepanjang bantarannya. Karena itu, ketika sungai dijaga, sesungguhnya masyarakat sedang menjaga kehidupan dan masa depan.


Semangat itulah yang tergambar dalam Festival Pecunan dan Pelestarian Sungai Cipelang yang diselenggarakan oleh Komunitas Hujan Keruh Jatitujuh di kawasan Bendung Rentang Kecamatan Jatitujuh Kabupaten Majalengka. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengajak masyarakat melihat sungai dari perspektif yang lebih luas: bukan hanya sebagai sumber daya alam, tetapi sebagai bagian dari ruang kehidupan yang harus dihormati dan dilestarikan.


Melalui pendekatan budaya dan kearifan lokal, Festival Pecunan menghadirkan perpaduan antara seni tradisi, kepedulian terhadap ekosistem perairan, dan kebersamaan masyarakat. Berbagai kegiatan seperti aksi 1.000 penari Belentung, penebaran 3.000 benih ikan nila Nirwana, serta tradisi balap perahu menjadi rangkaian yang memperlihatkan bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan seiring dengan pelestarian budaya.


Mengapa Sungai Harus Dimuliakan?

Sungai memiliki fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar tempat mengalirnya air. Sungai merupakan bagian dari ekosistem yang menopang kehidupan manusia, tumbuhan, dan hewan. Sungai juga berkaitan erat dengan pertanian, perikanan, pengendalian tata air, serta aktivitas sosial masyarakat. Memuliakan sungai berarti membangun kesadaran bahwa manusia bukan satu-satunya pemilik alam. Manusia adalah bagian dari ekosistem yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangannya.


Lantas, bagaimana budaya dapat menjadi bagian dari upaya pelestarian sungai?Masyarakat akan lebih mudah merawat sesuatu yang mereka kenal, cintai, dan anggap sebagai bagian dari identitas mereka.. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa menjaga sungai tidak harus selalu dilakukan dengan bahasa yang formal dan teknis. Pesan ekologis dapat disampaikan melalui seni, tradisi, kebersamaan, dan aktivitas masyarakat. Salah satu cara adalah dengan menjadikan budaya sebagai media untuk membangun kesadaran.


1.000 Penari Belentung bagian dari upaya Merawat Warisan Budaya

Salah satu kegiatan yang menjadi perhatian dalam Festival Pecunan adalah aksi 1.000 penari Belentung. Belentung merupakan warisan budaya dan kesenian asli masyarakat Jatitujuh Kabupaten Majalengka yang diciptakan oleh Ecin Kuraisin dengan penggagas atau pencetus lahirnya tari tersebut adalah Oki Sandi. Pertunjukan ribuan penari dari berbagai lapisan masyarakat termasuk melibatkan pelajar dari mulai SD, SMP/MTs, SMA/SMK/MA yang tampil secara bersama-sama bukan hanya menghadirkan pertunjukan seni yang spektakuler, tetapi juga memperlihatkan kekuatan budaya lokal sebagai identitas masyarakat.


Menebar 3.000 Benih Ikan, Menebar Harapan

Rangkaian berikutnya adalah penebaran 3.000 benih ikan nila nirwana. Kegiatan ini menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap kehidupan biota perairan sekaligus upaya menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga ekosistem sungai.


Penebaran benih ikan dapat dimaknai sebagai simbol menebar kehidupan. Namun, kegiatan tersebut tentu akan memiliki makna yang lebih besar apabila diikuti dengan komitmen untuk menjaga kualitas lingkungan perairan. Pelestarian sungai tidak berhenti pada pelepasan benih ke dalam air. Masyarakat perlu menjaga agar ekosistem sungai tetap mendukung kehidupan ikan dan organisme lainnya.


Dengan demikian, penebaran 3.000 benih ikan bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi dapat menjadi awal dari kesadaran baru bahwa sungai harus dijaga sebagai rumah bagi berbagai kehidupan.


Tradisi Balap Perahu dan Ingatan Masyarakat terhadap Sungai

Festival Pecunan juga menghadirkan tradisi balap perahu. Tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana sungai dapat menjadi ruang interaksi sosial dan budaya masyarakat. Balap perahu menghadirkan kegembiraan, semangat kompetisi, dan kebersamaan, tetapi di balik itu terdapat pesan penting mengenai kedekatan masyarakat dengan lingkungan sungai.


Tradisi yang berkaitan dengan sungai memiliki nilai strategis untuk terus dipelihara. Ketika generasi muda mengenal tradisi tersebut, mereka sekaligus diperkenalkan pada sejarah hubungan masyarakat dengan sungai.


Pelestarian tradisi dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kecintaan terhadap lingkungan. Sungai tidak hanya dipandang sebagai ruang fisik, tetapi sebagai bagian dari perjalanan kehidupan masyarakat.


Festival Pecunan pada akhirnya bukan hanya tentang pertunjukan seni, ikan, dan balap perahu. Lebih dari itu, festival ini menghadirkan sebuah gagasan penting: pelestarian lingkungan akan lebih kuat ketika masyarakat dilibatkan melalui budaya yang mereka miliki.


Pendekatan berbasis kearifan lokal memungkinkan masyarakat menjadi subjek pelestarian, bukan sekadar objek dari program lingkungan. Budaya memberikan identitas. Kearifan lokal memberikan nilai. Sungai memberikan ruang kehidupan. Sementara masyarakat menjadi kekuatan utama yang menjaga semuanya tetap berjalan.


Semangat Festival Pecunan dan pelestarian Sungai Cipelang tersebut mendapat apresiasi dari Bupati Majalengka serta Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Republik Indonesia. Apresiasi tersebut menjadi bentuk pengakuan terhadap upaya masyarakat dan pemerintah daerah dalam mengembangkan kegiatan pelestarian sungai yang memadukan aspek lingkungan dengan kekayaan budaya lokal.


Persoalan sungai bukan hanya persoalan teknis pembangunan infrastruktur, tetapi juga persoalan sosial, budaya, dan kesadaran masyarakat. Ketika masyarakat bergerak bersama, budaya dihidupkan, dan lingkungan dijaga, maka pelestarian sungai dapat berkembang menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan.


Festival dapat menjadi momentum untuk membangun kebiasaan baru. Sungai harus terus dijaga dari pencemaran. Sampah harus dikelola. Biota sungai harus dilindungi. Tradisi harus diwariskan. Anak-anak dan generasi muda perlu mendapatkan pendidikan tentang pentingnya sungai.


Sungai Cipelang memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar bentang alam. Ia merupakan bagian dari ruang kehidupan masyarakat dan memiliki potensi untuk menjadi pusat edukasi lingkungan sekaligus pelestarian budaya.



Festival Pecunan menunjukkan bahwa kearifan lokal masih memiliki kekuatan untuk menjawab tantangan zaman. Ketika seni Belentung ditampilkan oleh 1.000 penari, ketika 3.000 benih ikan ditebarkan, dan ketika tradisi balap perahu kembali dihidupkan, sesungguhnya masyarakat sedang mengirimkan pesan kepada generasi mendatang. 

Pesannya jelas: alam harus dijaga, budaya harus diwariskan, dan sungai harus dihormati.


Pada akhirnya, ketika sungai mengalir bersih, budaya tetap hidup, dan masyarakat memiliki kepedulian, maka yang mengalir bukan hanya air, tetapi juga harapan bagi masa depan.

 

Lebih baru Lebih lama