Oleh : Dede Arief Rohaedi, Guru MTsN 10 Majalengka
Kisah ini bermula ketika beberapa lalu, saya beserta istri memenuhi undangan seorang sahabat karib yang menggelar resepsi pernikahan putri tercintanya. Daerah yang menjadi lokasi tujuan kami merupakan daerah dataran tinggi di salah satu kaki Gunung Ciremai (gunung tertinggi di Jawa Barat). Tentu saja kontur jalan menuju daerah tersebut didominasi oleh jalanan menanjak-menurun yang curam, belokan dan tikungan tajam, serta paduan kanan kiri jalan adalah dinding tebing bahkan tepi jurang. Banyak blind spot yang tentu harus diwaspadai para pengemudi.
Perlu pembaca
ketahui juga, bahwa di sekitar lokasi tersebut terdapat beberapa objek wisata
alam. Menjadi destinasi wisata yang memang banyak dikunjungi masyarakat. Baik masyarakat
dari wilayah sekitarnya maupun yang datang jauh dari kota-kota lain.
Situasi dan kondisinya, jadi menarik ketika ternyata setelah lebih dari separuh perjalanan, kami mendapati bahwa jalan utama menuju lokasi tersebut, ditutup untuk semua kendaraan bermotor, apalagi mobil. Baik dari arah atas, maupun yang menuju ke atas. Informasinya ada mobil dump truck pengangkut material pasir, mogok ditanjakan, dan menghalangi hampir seluruh badan jalan. Akibatnya, kami, dan semua kendaraan yang menuju atau dari lokasi tersebut harus putar balik menuju jalur alternatif yang bisa ditempuh.
Ada perasaan
ngeri-ngeri sedap menempuh rute alternatif ini. Jalannya ternyata cukup kecil,
perpaduan aspal berlubang-lubang, bebatuan terjal, dan jalanan tanah berlapiskan
dedaunan kering membuat jalan jadi sedikit licin. Jalan hanya bisa dilalui satu mobil dan
berpapasan dengan sepeda motor saja.
Sementara bila mobil berpapasan dengan mobil, maka harus ada yang berhenti
lebih dulu untuk memberi kesempatan mobil dari arah berlawanan melaju. Singkat cerita, dalam perjalanan menuju
lokasi tidak ada kendala yang berarti. Mungkin karena waktu itu semua pengendara
berlaku etis, dengan mau menerapkan sikap toleransi tinggi.
Pada perjalanan
pulanglah, "ngeri-ngerinya" terjadi. Pada salah satu tikungan tajam sekaligus
tanjakan ekstrim, dengan blind spot
juga. Kendaraan di depan saya, berhenti,
cukup lama. Ternyata terjadi macet, ya macet total karena papasan dua mobil. Menjadi
lama kendaraan terhenti, karena kedua mobil tidak ada yang mau mengalah pada
awalnya.
Untuk para
pembaca, terutama yang seorang pengemudi, anda tahu pada kasus seperti ini, siapa
yang harus diberi prioritas untuk jalan lebih dahulu ? Kendaraan yang sedang menurun, atau yang
sedang menanjak ?
Akhirnya mobil di
depan sayalah, mobil pick up bermuatan bambu (yang sedang menanjak) yang
mengalah. Maka serta merta mobil saya juga mundur, mempersilakan mobil kelas
premium warna hitam, dengan plat nomor salah satu kota besar, dari arah depan melaju.
Syukurlah, macet
teratasi akhirnya. Namun, saat giliran mobil saya melaju, ternyata roda mengalami
slip, berputar kencang namun tidak mencengkram jalan. Dicoba beberapa kali
belum berhasil juga, malah mobil mulai terpeleset menurun. Sedangkan hanya tinggal satu, dua meter saja
jarak ke tepi jurang. Istri mulai panik ketakutan, dan dengan susah payah turun
dari mobil saat saya minta ia segera keluar untuk bantu mengganjal roda. Sambil
berguman saya dalam hati, kalaupun mobil terjerumus ke bawah, ia masih bisa
selamat.
Kesulitan ini
berlangsung cukup lama. Selama itu juga,
kendaran yang naik, maupun yang turun terus lalu lalang. Beberapa pengemudi
mobil sempat menoleh, salah satu mobil membuka kaca pintunya sambil bertanya, “kunaon
?” (kenapa) lalu melaju lagi, dan beberapa lainnya memilih melaju tanpa hirau.
Hingga
melintaslah seorang anak muda mengendarai sepeda motor, berhenti, turun, dan
sigap membantu istri saya mencari batu dan ikut mengganjal roda, sambil sesekali memberi
aba-aba dengan penuh antuias. Seakan ingin meyakinkan saya bahwa mobil pasti
bisa melaju naik.
Sejurus
kemudiaan, dari arah depan (lagi-lagi) sebuah mobil pick up
bermuatan penyambit rumput dan beberapa
karung rumput, berhenti, turun membantu mendorong mobil untuk bisa naik. Alhamdulillah,
mobil berhasil melaju naik, mencapai titik stabil untuk bisa parkir dengan
aman.
Saya beserta
istri mengucapkan terima kasih yang sangat mendalam kepada anak muda pengendara
motor, pada sopir pick up pembawa
rumput, serta para penyambit rumput, yang sudah dengan serta merta, iklas menolong saya dari
kesulitan dan ancaman terjerumus jurang terjal.
Sambil menghela
nafas lega, kami melanjutkan perjalanan seraya bersyukur kepada Allah. Kami
telah ditolong-Nya melalui orang-orang biasa yang luar biasa, berhati mulia.
Dari kejadian
tersebut, ada pelajaran nyata yang sungguh mengagumkan. Bahwa ternyata, sikap
etis, kerendahan hati untuk mengalah, untuk memberi, serta rasa empati pada sesama, justru ditunjukkan
oleh orang-orang biasa (wong cilik). Dalam jiwa mereka bersemayam
keluhuran etika dan rasa empati.
Meskipun mungkin
saja si pemuda pemotor itu sesungguhnya adalah seorang jutawan muda. Atau kedua sopir pick up dan para penyambit
rumput itu adalah para juragan ternak sapi. Saya tidak pernah tahu. Namun yang saya
lihat adalah keotentikan mereka saat itu. Bahwa kemudian pada sisi lain, tidak
ada dari mobil-mobil bagus berkelas yang
sempat berlalu melintas saat kejadian itu, yang tergerak hatinya, lalu berhenti
dan memberi bantuan, adalah juga realita yang
begitu "mengagumkan".
Sebagai akhir
dari catatan perjalanan ini, saya menulis-panjatkan doa, semoga orang-orang
baik ini ; pemuda bermotor, kedua sopir pick up dan para penyambit
rumput menjadi insan-insan pilihan Allah
yang hidupnya dibahagiakan di dunia dan akhirat dan tetap menjadi rahmatan
lil alamin.
Serta semoga anal-anak
murid saya (yang selama ini telah dibekali ilmu dan ajaran akhlak dengan sentuhanan
Panca Cinta) kelak menjadi orang-orang sukses yang dijiwanya bersemayam akhlak,
etika dan empati yang tinggi pada sesama. Sebagai wujud insan yang hatinya
penuh dengan cinta. Aamiin.
Salam dari Tanah
Subur, 7 Juli 2026.
Rujukan
nilai :
Undang-Undang
Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ) Pasal
111 :
"Pada jalan yang menanjak atau menurun yang tidak memungkinkan bagi kendaraan
untuk saling berpapasan, Pengemudi kendaraan yang arahnya menurun wajib memberi
kesempatan jalan kepada kendaraan yang mendaki."
Berdasarkan
aturan ini, kendaraan yang sedang melaju turun memiliki kewajiban untuk
berhenti atau menepi dan mendahulukan kendaraan yang sedang menanjak, bukan
sebaliknya. Hal ini bertujuan untuk menghindari kendaraan yang menanjak
kehilangan momentum, mundur tak terkendali, atau kemacetan serta memicu
terjadinya kecelakaan di jalur ekstrem.
Jadi secara etis,
dan yuridis, kendaraan yang sedang menanjak wajib mendapatkan prioritas utama.
Pengendara yang sedang melintasi jalan menurun harus mengalah dan memberi
kesempatan jalan.

