Strategi Kementerian Agama dalam Menghadapi Dampak Perubahan Iklim Ekstrem melalui Penguatan Nilai Kasih Sayang dan Toleransi Berbasis KBC

Oleh : Teddy Hermansyah, S.Pd. | Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum MTsN 7 Majalengka, Sekretaris MGMP PP MTs Kab. Majalengka, Pengurus MGMP PP MTs Jawa Barat dan Anggota Bidang Penulisan Artikel Populer Agerlip PGM Indonesia)

 

 

Perubahan iklim yang semakin ekstrem menjadi salah satu dasar penting dalam pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Tantangan yang dihadapi Kemenag  saat ini tidak lagi bersifat nasional, melainkan telah menjadi persoalan global yang memerlukan respons pendidikan yang adaptif dan humanis.

 

Adanya Perubahan iklim ekstrem bukan hanya isu lingkungan, tetapi berdampak luas pada kehidupan sosial dan kemanusiaan. Karena itu, KBC hadir untuk menjawab tantangan global tersebut, demikian yang disampaikan Kasubdit Kurikulum dan Evaluasi Direktorat KSSK Madrasah, Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, Dr. H. Abdul Basit, S.Ag.,MM dalam arahannya.

 

Ia menjelaskan, selain isu iklim, masih adanya kasus kekerasan di lingkungan madrasah juga menjadi perhatian serius Kemenag. Ke depan, pihaknya ingin memastikan praktik pendidikan yang lebih menekankan nilai kasih sayang dan toleransi antar sesama. “Kita ingin tidak ada lagi kekerasan di madrasah. Pendidikan harus mengedepankan kasih sayang dan toleransi sebagai fondasi utama,” tegasnya.

 

Lebih lanjut, Basit menekankan bahwa KBC bukanlah pengganti kurikulum nasional, melainkan sebagai “jiwa” yang menghidupkan praktik pendidikan. KBC diharapkan mampu mengisi ruang-ruang kosong yang muncul akibat dinamika global, termasuk dampak perubahan iklim ekstrem dan meningkatnya konflik di berbagai belahan dunia. Kita melihat masih banyak negara yang mengedepankan peperangan dibandingkan perdamaian. Ini menjadi refleksi penting bagi dunia pendidikan kita,” tambahnya”.

 

Dalam implementasinya, KBC mendorong madrasah untuk mengoptimalkan tiga aspek utama pendidikan, yaitu intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler secara seimbang dan maksimal. Oleh karena itu, madrasah diharapkan mampu memahami dan mengimplementasikan panduan KBC secara tepat. Tidak ada lagi madrasah yang paling hebat. Yang ada adalah semua madrasah hebat,” ujarnya’.

 

Ia juga mengingatkan pentingnya peran pendidik dalam membuka ruang diskusi yang lebih luas, meskipun keterbatasan pertemuan formal sering menjadi kendala. Menurutnya, dialog yang terbuka dapat menjadi sarana untuk memperbarui pemahaman dan mencari solusi atas berbagai persoalan di madrasah.

 

Dengan gaya santai, ia bahkan mengajak para pendidik untuk membangun budaya diskusi informal. “Kadang kita perlu ngopi bersama untuk memecahkan persoalan. Dari situ bisa lahir ide-ide brilian demi kemajuan madrasah,” katanya. Menutup penyampaiannya, Basit mengingatkan bahwa pendidikan adalah proses tanpa henti. “Hidup adalah pilihan, dan pilihan kita adalah belajar, belajar, dan belajar,” pungkasnya.

 

Lebih baru Lebih lama