Oleh: Irawan Sarpingi S, S.Pd. | Guru Pendidikan Pancasila MTsN 6 Cianjur
Dahulu kita pernah mendengar atau mungkin saja mempelajari konsep dasar kebutuhan manusia seperti kebutuhan primer, kebutuhan sekunder dan kebutuhan tersier. Dengan deskripsi bahwa kebutuhan primer merupakan kebutuhan utama dari manusia untuk melangsungkan kehidupannya, dan kebuthan sekunder adalah kebutuhan kedua setelah kebutuhan primer tercukupi, sedangkan tersier ialah kebutuhan lux atau kebutuhan yang mungkin tidak setiap orang mampu mencapainya. Begitulah perspektif ekonomi memandang kebutuhan manusia membaginya ke dalam tiga bagian dimana hal ini berkaitan dengan alat pemenuhan kebutuhan.
Klasifikasi ini akan mengalami pergeseran yang apabila penguasaan ekonomi suatu bangsa mencapai titik kemakmuran. Apabila kita ambil contoh dulu di Indonesia tahun 70an sampai 90an kepemilikan mobil sebagai barang tersier; saat ini mobil mungkin menjadi kebutuhan sekunder dimana masyarakat Indonesia secara ekonomi mampu, ditambah policy pemerintah mempermudah faktor produksi dan distribusi sehingga rakyat Indonesia kebanyakan sudah mulai mampu memilikinya.
Bukan halnya persepsi kebutuhan diatas saja dimana alat / barang merupakan pemuas kebutuhan sebagai tolok ukurnya; ternyata ada persepsi lain mengenai kebutuhan manusia sebagaimana yang diungkapkan oleh salah seorang ulama di era abad ke-14 dari Andalusia yang bernama Imam Asy-Satiby dalam karyanya Al-Muwafakat membagi kebutuhan tersebut ke dalam beberapa tingkatan diantaranya :
1. Dharuriyyat (Primer); Didalamnya menuliskan bahwa kebutuhan ini adalah kebutuhan pokok yang jika tidak terpenuhi akan mengancam keselamatan hidup yang diantaranya adalah kebutuhan akan Agama, Jiwa, Akal, Keturunan dan Harta.
2. Hajiyyat (Sekunder); kebutuhan yang diperlukan untuk memudahkan hidup dan menghilangkan kesulitan, namun jika tidak terpenuhi tidak sampai mengancam nyawa.
3. Tahsiniyyat (Tersier); Kebutuhan bersifat pelengkap, keindahan, atau kemewahan.
Berbeda dengan pandangan Maslow; beliau membuat hierarki kebutuhan ke dalam beberapa tingkatan diataranya :
2. Kebutuna Keamanan; kebutuhan perlindungan dari bahaya fisik dan emosional, stabilitas finansial, dan kesehatan
3. Kebutuhan Sosial (kasih sayang); hubungan dengan orang lain, persahabatan, keluarga, dan rasa memiliki.
4. Kebutuhan harga diri; pengakuan, status, prestasi, dan rasa hormat dari orang lain.
5. Aktualisasi Diri; Puncak kebutuhan, yaitu keinginan untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri dan mengembangkan potensi maksimal.
Dari Dua perspektif inilah penulis mencoba mengkorelasikannya kedalam tulisan inti mengenai dua variable “Pendidikan Sepanjang Hayat” dengan “MGMP Pendidikan Pancasila sebagai Salah Satu Organisasi Profesi Guru”.
Pendidikan Sepanjang Hayat atau dalam istilah lain dalam dunia pendidikan kita kenal dengan “andragogi” dan dalam bahasa inggris istilah ini diesbut dengan Long Life Education. pendidikan ini memiliki dualisme perspektif sebagai dasar pemikiran. Diantara dua perspektif ini antara lain adalah :
2. Perspektif Timur; penekanannya terletak pada peran individu dalam masyarakat, harmoni sosial, pengembangan karakter moral dan etika yang bermuara akhirnya bahwa ini adalah bentuk tanggung jawab pribadinya terhadap keluarga, masyarakat (tanggungjawab sosial), dan terhadap Allah SWT.
Dari dua perspektif inilah secara gamblang bahwa hakikat pembelajaran pada intinya bahwa pembelajaran seorang individu itu berawal dari lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara serta mampu memberikan kontribusi positif untuk lingkungan tersebut serta paham bahwa pendidikan ini sebagai bentuk kewajiban seorang Abdi Tuhan (Allah SWT), sebagai bentuk usaha yang pada hakikatnya dibalik kewajiban ini ternyata Allah SWT mencintai hambaNya. Letak cinta Allah SWT garis besarnya adalah hambaNya selamat Dunia Akhirat.
Pada akhirnya kita paham proses pembelajaran ini memiliki banyak manfaat yang dibutuhkan seorang manusia sebagai kholifah, maka dari itu alangkah baiknya sebagai bentuk motivasi kita untuk dapat melaksanakan tugas dan kewajiban belajar ini supaya bermakna; penulis cantumkan beberapa dalil yang diantaranya :
a. Q.S Al Alaq ayat 1-5 ; Ayat pertama yang diturunkan memerintahkan manusia untuk membaca dan belajar. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya ilmu sejak awal kehidupan.
b. Q.S Al Isra ayat 36; janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu mempunyai pengetahuan tentangnya... Menegaskan pentingnya Ilmu yang benar dalam segala aktivitas.
c. Q.S Adz-Dzariyat ayat 56; Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaku. Ilmu / Pembelajaran semata-mata untuk mencapai tujuan ibadah ini dengan harapan Allah Ridho terhadap kita.
d. Hadits “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan jalannya ke surga”(H.R Muslim). Menunjukkan keutamaan dan pahala besar bagi para pencari ilmu seumur hidup.
e. Hadits “Sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang kontinu (sedikit tapi rutin) H.R Bukhari-Muslim. Menunjukkan penekanan pada konsistensi dalam belajar, walau sedikit itu lebih baik dari pada banyak tapi tidak berkelanjutan.
f. Hadits “ Apabila anak adam telah meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakannya” (H.R Muslim). Ilmu yang bermanfaat yang kita ajarkan menjadi amal jariyah yang terus mengalir sehingga mendorong kita untuk terus belajar dan berbagi.
Simpulan dari pendidikan sepanjang hayat dari perspektif Islam diantaranya :
a. Kewajiban Abadi; belajar dari mulai buaian ibu sampai masuk liang lahat;
b. Peningkatan Derajat; dengan Ilmu manusia derajatnya menjadi tinggi dimata/ di sisi Allah SWT baik di dunia maupun dia khirat;
c. Mencapai Keridhaan Allah SWT; tujuan akhir pendidikan adalah meraih ridha Allah SWT bukan sekadar sebagaimana perspektif barat deskripsikan.
Selanjutnya bagaimana dengan MGMP, apa itu MGMP Pendidikan Pancasila, bagaimana ruang lingkupnya. MGMP itu adalah Organisasi Profesi Guru sebagai wadah kolaborasi dan peningkatan kompetensi berkelanjutan. Lanjut DuFour, R (2004) dalam bukunya Educational leadership “What is a Professional Learning Community?”, 61(8), hal 6-11. Menkonfirmasi bahwa forum seperti MGMP adalah wadah efektif untuk mengembangkan kompetensi guru secara kolektif-kolegial. Tokoh lain juga menuliskan Lieberman, A (1995). Practices that Support Teacher Development. Phi Delta Kappan, 76(8), hal 591-596; mendukung point penting tentang bagaiamana berbagi pengetahuan dan praktik terbaik diantara sesama pendidik. Terakhir Undang-undang Guru dan Dosen No. 14 tahin 2005 menjelaskan dasar hukum yang mewajibkan guru harus terus beradaptasi dengan perubahan kurikulum dan meningkatkan kualitas pembelajaran.
MGMP Pendidikan Pancasila merupakan wadah guru yang berorientasi pada pengembangan profesional berkelanjutan, berbagi pengetahuan dan pengalaman, peningkatan kualitas pembelajaran, adaptasi terhadap perubahan, serta penguatan karakter dan nilai nilai.
1. Pengembangan Profesional Berkelanjutan: MGMP PPKn dapat menjadi wadah untuk guru PPKn mengembangkan kompetensi mereka secara berkelanjutan. Ini sesuai dengan konsep Pendidikan Sepanjang Hayat, di mana pembelajaran tidak berhenti setelah lulus dari pendidikan formal.
2. Berbagi Pengetahuan dan Pengalaman: Melalui MGMP, guru PPKn dapat berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik terbaik dalam mengajar. Ini memperkaya pemahaman mereka tentang materi PPKn dan metode pengajaran yang efektif.
3. Peningkatan Kualitas Pembelajaran: Kegiatan MGMP PPKn dapat membantu guru meningkatkan kualitas pembelajaran PPKn di sekolah. Ini termasuk mengembangkan materi ajar, merancang kegiatan pembelajaran yang menarik, dan mengevaluasi hasil belajar siswa.
4. Penguatan Karakter dan Nilai-Nilai: MGMP PPKn dapat menjadi forum untuk mendiskusikan cara-cara efektif menanamkan nilai-nilai Pancasila dan karakter positif pada siswa. Ini relevan dengan tujuan pendidikan PPKn untuk membentuk warga negara yang baik.
5. Adaptasi terhadap Perubahan: MGMP PPKn dapat membantu guru PPKn untuk terus beradaptasi dengan perubahan dalam kurikulum, teknologi, dan tuntutan masyarakat. Ini memastikan bahwa mereka tetap relevan dan mampu memberikan pendidikan yang berkualitas.
Harapan besar dari wadah ini adalah bahwa interaksi guru didalamnya bukan hanya berorientasi sebagaimana terulis diatas akan tetapi jika kita niatkan sebagai bentuk ibadah; wadah ini akan mampu memberikan kontribusi positif yang diantaranya mampu menjadi persaksian safaat nanti diyaumil akhir/akhirat bahwa kita sebagai guru terus berusaha menebar kebaikan terutama memupuk nilai-nilai moral kepada anak didik, terus berjuang untuk memperbaiki diri secara kolektif. Insyallah hal ini menjadi safaat bagi kita sebagai guru mapel Pendidikan Pancasila.
Kesimpulannya bahwa korelasi Pendidikan sepanjang hayat bagi guru mapel Pendidikan pancasila adalah bagaimana seorang guru terus menerus belajar mengembangkan dirinya yang semata diniatkan ibadah; baik ibadah mahdoh, maupun ghoer mahdoh/ ibadah sosial kepada anak didik, dengan sesama profesi melalui organisasi yang diikutinya yaitu MGMP Pendidikan Pancasila.
.jpg)